Kecombrang dan Keajaiban-keajaiban Kecilnya

Saya baru kenal kecombrang pas merantau ke Jakarta saja. Di tempat asalku di Bone, jarang atau malah nggak pernah lihat tanaman ini dimasukkan ke makanan.
Kecombrang atau honje atau kumbang sekala, begitu orang di bagian Barat Indonesia biasa menyebutnya. ilmiahnya Etlingera Elator. Agak ke sedikit disebut daala.
Kecombrang sering dijadikan bumbu karena rasanya unik. Antara asem dan sepat, persis bumbu kehidupan. Tapi karena itu juga bikin masakan jadi “segar”.
Saya dulu malah sempat mikir tanaman ini jangan-jangan ada adiktifnya karena berhenti disendok kalau dijadikan sambel. Mirip kasusnya andaliman.
Tapi sejauh ini belum ada laporan bahaya atau dampak berlebihan dari konsumsi kecombrang.

Situs kesehatan terkurasi halodoc bahkan menyebut kecombrang banyak manfaatnya bagi kesehatan. Sebagaimana biasanya tanaman berwarna merah, kecombrang mengandung antioksidan, antibakteri, dan antikanker. Itu karena kecombrang mengandung senyawa flavonoid. Ada mineral penting juga seperti kalsium, kalium, dan fosfor.
Nah, sambel ini sering jadi menu utama #bekalochan . Saya nggak terlalu suka sambel, tapi kalau pakai kecombrang lain ceritanya.

Tidak hanya bunganya, batang kecombrang juga bisa diolah. Istri saya, Desanti, me-recook ayam serundeng batang kecombrang. Lumayan juga rasanya. Seratnya mirip-mirip lah dengan lengkuas, hanya ada tambahan wangi kecombrang yang khas saat digoreng.

BACA JUGA:  Kasidah, Kue Nostalgia yang Masih Mencari Hubungannya dengan Orkes

 

 

“Jadi, tidak ada ciptaan yang sia-sia, melainkan manusia yang karena tidak mengerti atau sombong membuatnya tidak mampu melihat keindahan dan manfaatnya untuk kebaikan manusia sendiri.”
Begitu kata Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam pengantar buku “Hikayat Pohon Ganja”.
 
 
 
 

Oya, kalau mau cobain sambal kecombrang, silakan main ke IG @bekalochan atau bisa juga pesan via wa.me/6285887568033 

 

Fauzan Mukrim
Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)
%d bloggers like this: