Bubur Bayi NAYZ, dari Gerobak Pengkolan Jalan ke Lantai Bursa

Lutfiel dan Nadya. Foto: FB Lutfiel Hakim

Pak Lutfiel bercerita, bisnis yang ia mulai belasan tahun lalu ini hanya bermodalkan 250 ribu rupiah. Kala itu istri Pak Lutfiel, Mbak Nadya, meminta izin untuk berjualan bubur bayi. Pak Lutfiel sendiri belum terpikir untuk menjadi wirausahawan saat itu. Ia masih menikmati pekerjaannya sebagai guru bahasa.

Mulai berjualan dengan gerobak kecil di depan rumah dan tanpa brand apa-apa, Pak Lutfiel dan Mbak Nadya awalnya hanya ingin berbagi pengalaman mengurus first born mereka yang kebetulan kembar. Tentu banyak kerepotan, termasuk dalam urusan menyiapkan makanan pendamping ASI (MPASI). Ceritanya mereka hanya ingin saling menyerap ilmu dan pembelajaran menjadi orangtua.

Tak disangka, pasar merespons dengan sangat baik. Banyak orang yang tertarik pada konsep dan barang yang mereka jual. Dari lingkar pertemanan, RT, RW, dan kompleks, gerobak dagangan mereka terus diminati. Melihat kesempatan emas ini, Pak Lutfiel pun mempercepat laju . Tadinya hanya 2 gerobak, mereka mitrakan menjadi 10, 20, dan puncaknya pada 2011 akhir meledak menjadi 80-an. Mungkin terbantu oleh situasi di mana semua orang ingin serba cepat, tren bubur bayi gerobak pun makin merebak.

Pak Lutfiel dan Mbak Nadya pun bergeser dengan mempelopori produk bubur bayi organik siap saji. Ketika itu bisnis bubur bayi organik masih terkategori blue ocean, hampir tak ada kompetitor. Melanjutkan inovasi, pada 2013 mereka bergerak lagi dengan konsep semi pabrikasi sederhana.

BACA:  Mantra di Punggung Aisha

Sempat berganti nama, produk bubur bayi Pak Lutfiel dan Mbak Nadya kini sudah melaju dengan nama NAYZ. Ketika ini saya tulis, menurut Pak Lutfiel, gerobakan mitra NAYZ telah berada di lebih dari 1250 titik aktif. Saat ini, NAYZ juga tidak sekadar produk gerobakan, tapi telah menjadi produk ritel FMCG yang tersedia di berbagai channel penjualan, toko peralatan bayi, maupun minimarket di kota-kota dì Indonesia.

Foto: FB Lutfiel Hakim

“Namun jauh di lubuk hati saya, melihat begitu besarnya manfaat gizi produk Nayz ini (berapa banyak anak gizi buruk, GTM, BB kurang, bahkan bocor jantung yang kirim testimoni), saya ingin perusahaan ini dimiliki semua orang yang peduli dengan generasi Indonesia,” demikian tulis Pak Lutfiel di postingan media sosialnya.

Kemarin, Pak Lutfiel menyampaikan satu kabar baik lagi. NAYS satu langkah lagi menuju lantai bursa.

“Ini produk yang bahan bakunya 100% didapat dari tanah Indonesia yang subur, dari tangan petani – petani, untuk generasi Indonesia yang maju, dan kasih sayang Ibu Indonesia yang tulus. Hari ini kami mengumumkan, PT Hassana Boga Sejahtera Tbk masuk ke tahapan pra efektif dan book building sebagai langkah kami menjadi perusahaan publik,” kata Pak Lutfiel.

BACA:  Rolapena, Pena yang Tumbuh Menjadi Pohon

Saya tentu turut bahagia mendengarnya. Tidak banyak perusahaan rumah tangga yang bisa IPO begini. 

https://www.e-ipo.co.id/id/ipo/172/nayz-pt-hassana-boga-sejahtera-tbk

Foto: FB Lutfiel Hakim

Pak Lutfiel tetangga saya di kompleks. Kadang teman lari juga tapi belakangan sudah tidak pernah lagi karena beliau semakin tak terkejar pace-nya oleh saya yang pelari musiman. Sesekali kami juga camping bareng. Pak Lutfiel ini orang baik, selalu sigap menolong kalau ada tetangga yang kesusahan. Jiwa solidaritasnya terbukti saat pandemi lalu, Pak Lutfiel menyediakan satu ambulans Nays senantiasa terparkir di mesjid kompleks kami untuk digunakan oleh siapa pun yang membutuhkan. 

Dari Pak Lutfiel, saya banyak memungut remah-remah ilmu bisnis. Pengalaman dan pengetahuannya sangat berharga bagi saya yang juga sedang memulai usaha kuliner #bekalochan bersama istri saya Desanti.

Di luar itu, pandangan-pandangan Pak Lutfiel tentang nilai kehidupan juga sangat visioner. Saya ingat dulu waktu di acara penanaman pohon di Puncak, Bogor, tahun lalu, Pak Lutfiel mengingatkan tentang pentingnya kolaborasi dan bekerja sama. “Pak Ochan, kalau ada sesuatu hal yang masih bisa kita kerjakan sendiri, berarti itu bukan hal yang terlalu besar,” katanya. 

Sebagai sesama pelaku UMKM, menyenangkan melihat teman seiring berkembang dan bertumbuh. Dari gerobak kecil di pinggir jalan, kini ke lantai bursa. Hasan dan Husain, dua anak kembar mereka yang dulu menjadi inspirasi NAYS, sekarang sedang menempuh pendidikan setara SMP di sebuah pesantren di Bogor. 

BACA:  Tentang Wanita dan Lekatnya Stereotip “Makhluk Sejuta Kode”

Turut mendoakan, Nayz kelak menjadi perusahaan besar di Indonesia di kategori MPASI rumahan. Mudah-mudahan #bekalochan juga segera menyusul IPO. Hehehe….

Fauzan Mukrim

Leave a Reply

Silakan dibaca juga