Tamu Tengah Malam

Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Beberapa hari lalu, sekitar pukul sepuluh malam, pintu rumahku diketuk orang. Untuk yang terletak di sepi, di samping rumpun bambu yang lebat, saat kelopak mata rasanya udah lengket dan badan menagih rehat, itu bukan ketukan yang menyenangkan.

Tinggal di sebelah rumpun bambu, kalau ada ketukan pintu jam segitu, kadang mikirnya bukan siapa tapi apa yang ngetuk. Hiyy! Hahaha…

Kemungkinan terdekat yang langsung hinggap di kepala, ini keperluan gawat darurat. Mungkin jika tak membeli benda yang cuma ada di toko kami, ada nyawa yang terancam mati. Halah. Ini jelas dramatisasi over dosis. 😀 Tokoku adalah toko alat tulis, aneka sandang, alat jahit, dan kelontong. Itu barang-barang yang tak dibutuhkan untuk situasi gawat darurat kasus apa pun.

Fyi, tokoku tutup sebelum maghrib. Karena terletak di samping rumah, orang-orang yang mau beli sesuatu sehabis Maghrib, biasanya akan langsung mengetuk pintu rumah. Tapi, habis Isya rumahku biasanya udah gelap gulita. Hahaha, begitulah indahnya hidup di desa. Kapitalisme belum cukup daya memaksa kami bekerja membanting-banting tulang kami sendiri. *nyengir

Suamiku yang keluar menemui sang tamu mendapati sepasang suami istri membawa bayinya. Ternyata, mereka yang juga kemarin sore berbelanja aneka pernik buat pesta ulang tahun putranya itu. Rupanya ada beberapa printilan yang kurang. Kertas krep potong, balon bulat, dan balon panjang. Yup. Untuk printilan nan heroik itulah pintuku diketuk tengah malam. An epic reason, isn’t it?!

Sehari sebelumnya, sore hari menjelang toko tutup, suami istri itu sudah berbelanja aneka keperluan buat pesta ulang tahun pertama bayi mereka. Ada dua dus air mineral, balon-balon, kertas krep warna-warni, lem, dan lain-lain. Sambil memilih-milih, sang muda itu tampak membayang-bayangkan dekorasi ruang pesta, sembari menghitung kebutuhan masing-masing pernak-perniknya.

BACA JUGA:  Luka Sosial

“Balonnya satu di tengah, terus krepnya dililit-lilitkan, jadi krepnya butuh berapa ya?” terawangnya memandang plafon toko. Telaten amat nih si bapak, batinku. Looks like a family man. Sementara istrinya sibuk menenangkan si bayi yang ingin menggapai apa saja, meraih aneka barang dagangan ke dalam tangan mungilnya. Aih, keluarga kecil yang bahagia.

Aku membayangkan, sepulang belanja pernik pesta itu, sang muda itu langsung mendekor ruang pesta ulangtahun buat putra pertamanya itu. Bayi umur setahun, yang bahkan belum akan mengingat apa pun tentang pesta itu. Besok, saat pesta digelar, semoga ada hape yang bisa mereka pakai untuk mengabadikan dan mempersembahkan kenangan indah itu. Persembahan cinta yang membuncah-buncah itu tentu akan jadi kenangan manis si bocah akan orangtuanya.

Aku menduga, mereka sempat berbelanja tiap sore dan malam. Si muda itu berperawakan pekerja keras. Kutebak pekerjaannya itu antara penderes gula kelapa, tukang bangunan atau pengaspal jalan. Kulitnya legam, tubuhnya berotot dan kekar. Tiba-tiba aku menyesal, mengapa tak menanyakan hal itu padanya. Mungkin setelah seharian bekerja keras dan kasar, sore sampai malam mengurus dekorasi pesta. Meski gak ganteng, jadwal sedemikian tentu mengesankan semua perempuan. Haisssh…

Istrinya tipikal ibu rumahan. Tak berdandan, bahkan juga tampak tak berganti pakaian untuk keluar rumah. Slebor, macam aku. Tubuhnya pendek, agak gemuk. Kulitnya lebih terang dari si suami, meski tak bisa dibilang putih. Matanya –maaf- juling sebelah. Dia dan bayinya ikut serta belanja tampaknya berfungsi sebagai Dewan Pertimbangan Agung bagi keputusan sang Presiden soal pernak pernik pesta. Aih..meski tak cantik, kutebak ia perempuan yang bahagia.

BACA JUGA:  "Bagaimana Kalau Seandainya Anakmu..."

Itulah tamu tengah malam-ku beberapa hari lalu. Sepasang suami istri yang –menurut pandangan mata lahir– tak cantik, tak ganteng, tak kaya, tak beken, tapi bahagia.

So, have you got my point, Mblo?

— Banjarnegara, 25 Feb 2016.

Latest posts by Siti Maryamah (see all)
%d bloggers like this: