(Nasi Goreng) Merah

 
Tadi pagi balik kantor, pantauan perolehan suara Gus Yahya Cholil Staquf dan Kiai Said Aqiel Siradj masih seimbang.
Dari lokasi Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung, ada Mbak @badriahgofur dan Mbak @kakadevi . Kantor mengirimkan dua-duanya jurnalis perempuan, biar hemat akomodasi dan lebih gampang berghibah. 😁
Di luar urusan pekerjaan, hasil muktamar ini penting buat saya. Sebagai NU kultural, saya juga ingin tahu arah NU selanjutnya. Begini-begini, saya masih qunut kalau subuh. Di struktural sebenarnya saya ada terlibat, meski keciiiil sekali. Beda dengan peran Mas Iqbal Aji Daryono di Muhammadiyah. Saya cuma beruntung diajak Mas Arief Adi Wibowo bantu-bantu bagian media di PP ISNU.
Sampai saya belum tahu lagi kelanjutan muktamar itu. Belum sempat nonton TV lagi, harus urus BekalOchan dulu. Ada pesanan nasi goreng merah yang harus diantar.
Ini pesanan resmi pertama #bekalochan. Sebelumnya kami sudah sering bikin tapi untuk kalangan terbatas saja. Survei pasar sekaligus cari masukan. Kami tidak mau main-main menyiapkan nasgor merah ini, karena ini beda dengan menu ayam tangkap dan nasu likku yang sudah duluan ready -sila diorder. Di luar sana sudah banyak nasgor merah yang enak. Kami harus menawarkan yang jauh lebih enak beserta value added lainnya.
Untungnya, dari sejumlah review tester, semuanya bilang nasgor buatan chef Desanti ini punya keunggulan yang tidak ada di merk lain. Saya percaya. Tester kami adalah orang-orang yang pernah terpapar rasa nasgor merah setidaknya dalam rentang 10 tahun. Jadi masih tersimpan baik memori rasanya. Saya juga lihat Desan sudah bekerja keras menghadirkan rasa yang otentik. Sampai-sampai ia cuma mau pakai saus tomat merah yang didatangkan khusus dari Makassar. Ada satu pabrik saus yang sudah lolos uji BPOM. Yang lain kami tidak berani.
Sekarang pesanan sudah diantar. Tinggal menunggu respons. Mudah-mudahan reaksi pasar sebagus menu-menu sebelumnya.
Sambil nunggu Desan mengepak pesanan lain, saya nyalain TV lagi.
Di TV tempat kerjaku sedang acara lain, tapi di TV tetangga ada beritanya. Penghitungan suara masih berlangsung. Ada Mbak Alissa Q. Wahid diwawancara Mas Indra Maulana tentang cita-cita “localizing Islam” NU.
Menarik ini.
 
%d bloggers like this: