Unicorn

#dearRiver
#dearRain
Ayah mau cerita tentang Justine Sacco. Ia seorang perempuan konsultan PR di perusahaan InterActiv Corp di New York. Kariernya sangat cemerlang. 
20 Desember 2013, ia ditugaskan ke Afrika Selatan. Seperti eksekutif masa kini pada umumnya, sebelum masuk pesawat, ia masih sempat nge-tweet. 
“Going to Africa. Hope I don’t get AIDS. Just kidding. I’m white! (Ke Afrika dulu ya, Cyin. Semoga gak kena AIDS. Bercanda kok. Aku kan orang kulit putih!)

Di pesawat, Justine mematikan ponselnya.Tapi rupanya postingan itu dinilai rasis dan menghina. Banyak netizen yang marah dan menuntut Justine dipecat. Justine sendiri tidak menyadari apa yang terjadi, kan hapenya off dan ia juga mungkin tidur selama penerbangan. 
Dalam waktu sekitar 11 jam, tweet Justine yang hanya memiliki 170 followers itu, langsung jadi trending topic (TT) seluruh dunia. 
Kantor Justine tentu ikut bereaksi keras. Komentar itu dianggap ofensif. “Ini adalah hal yang sangat serius, dan kami akan mengambil tindakan yang diperlukan”, begitu pernyataan resmi perusahaan InterActiv Corp, tempat kerja Justine.

Berita tweet rasis itu kemudian juga diblow up oleh media besar seluruh dunia, termasuk NYT, CNN, ABC, dan BBC. Justine jadi perbincangan global. Jutaaan orang mengetikkan tagar#hasjustinelandedyet sembari menunggu apa yang akan terjadi ketika Justine mendarat nanti. 

Ketika akhirnya mendarat di Cape Town, Afrika Selatan, betapa terkejutnya Justine mengetahui kerusakan yang telah ia timbulkan. Ia kemudian menghapus tweet-nya dan buru-buru meminta maaf. Tapi sudah terlambat. Ia dipecat. Satu tweet itu telah mengubah hidupnya yang sebelumnya menyenangkan. 
Ada dua tahun Justine sempat terpuruk, tak ada perusahaan yang mau mempekerjakannya lagi. Ia juga kesulitan bergaul atau mencari teman kencan.
“Semua mendadak dicabut dari kehidupanku,” kata Justine. 

Beruntung Justine berhasil bangkit dan menata hidupnya lagi. 

Ini ada kejadian yang bisa dibilang ada benang merahnya. Dua hari lalu, Om Achmad Zaky, bos yang juga suaminya Tante Diajeng Lestari itu sempat bikin heboh dengan tweetnya. Ia mencuit terkait Revolusi Industri 4.0 dan kondisi dunia R&D (Research and Development). Intinya ia mengkritisi budget R&D Indonesia yang cuma USD 2 miliar (Tapi menurut pengamat Milenialnomics Om Haryo Setyo Wibowo, data itu keliru. Itu data tahun 2013. Untuk tahun 2016 budget R&D Indonesia sudah USD 9 miliar). Tweet yang dimulai dengan kata “omong kosong” dan diakhiri dengan kata “presiden baru” itu sempat memicu kemarahan netizen, terutama pendukung Jokowi. 

Om dianggap tendensius dan offside karena selama ini justru pemerintah sangat mendukung pengembangan startup termasuk Bukalapak. Pak Jokowi sendiri bahkan pernah memposting secara khusus pujiannya kepada Bukalapak sebagai startup unicorn. (Unicorn adalah sebutan untuk startup atau perusahaan perintis yang memiliki valuasi di atas USD 1 miliar atau setara Rp 13,8 triliun. Indonesia setidaknya sudah memiliki 4 unicorn. Selain Bukalapak, ada Gojek, Tokopedia, dan Traveloka.)

Ujung-ujungnya, sebagian pendukung Jokowi menganggap Om Achmad Zaky tidak tahu berterima kasih. Tagar ##uninstallbukalapak pun jadi ramai sepanjang hari Kamis kemarin itu. 

Om Achmad Zaky sendiri mengaku tidak tahu tweetnya itu viral. Ia men-tweet itu kira-kira pukul 22.30.
“Bangun2 viral tweet saya gara2 “presiden baru” maksudnya siapapun, bisa Pak Jokowi juga. Jangan diplintir ya 🙂 🙂 lets fight for innovation budget,” tulisnya. Sepertinya setelah nge-tweet itu, ia langsung bobo seperti Justine. 

Tweet itu mungkin memang ekspresi pribadi yang sah-sah saja dilakukan, tapi sebagai CEO, ia adalah representasi Bukalapak yang tentu di dalamnya ada beragam orang dan pilihan politik. Meski berkilah tidak bermaksud menyindir siapa pun, Achmad Zaky tetap meminta maaf. Ia mengaku tidak bermaksud menyerang Pak Jokowi. Ia bahkan menyebut Jokowi dengan “sudah saya anggap seperti Ayah sendiri” karena sama-sama orang Solo.

“Saya, Achmad Zaky selaku pribadi dan sebagai salah satu pendiri Bukalapak, dengan ini menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas pernyataan yang saya sampaikan di media sosial. Saya sangat menyesali kekhilafan tindakan saya yang tidak bijaksana tersebut dan kiranya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” begitu permohonan maaf Om Achmad Zaky yang beredar di media hari ini. 
Mudah-mudahan setelah ini beres semuanya. Netizen kembali landai dan tidak perlu merembet kemana-mana seperti boikot Traveloka dan boikot Sari Roti tempo hari. 

Apa yang bisa kita pelajari dari ini, Nak, adalah hati-hati memposting sesuatu di kondisi tertentu. Misalnya, saat terlalu gembira karena akan naik pesawat, saat sedih karena putus cinta, saat lapar dan tidak ada stok Indomi, atau saat mau tidur. Apalagi saat tidak punya kuota internet. Sampai olshop ibumu River’s Corner jadi unicorn juga menyusul Bukalapak, percaya deh, gak bakal muncul itu postingan.

Oya, bulan depan sudah mulai bazar Big Bad Wolf Books ya. Yang mau jastip, siyap-siyap, Kakaaa…….

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)