Semesta Kobokan

Semesta kobokan sejatinya bukan hanya sebatas meja makan, atau meja operasi di Rumah Sakit. Ia menyimpan semacam pesan yang luhur. Kegunaan azalinya memang untuk membersihkan tangan sebelum makan, tapi kobokan juga semacam kiasan bahwa hidup ini mesti sering-sering dibersihkan.

Tidak Paham

“Tadi di busway yg sesak, saya merelakan kursi saya untuk seorang bapak yg tertidur berdiri. Apakah saya orang baik?” “Mungkin tidak.” “Kenapa tidak? Bapak itu tampak kelelahan sepulang kerja. Dengan tidur sebentar di busway, mungkin dia akan segar kembali saat tiba di rumah dan bisa bermain lebih lama dengan anak-anaknya.” “Bagaimana kalau setibanya di rumah…

Termos Es Bu Guru

Kadang dipeluk, kadang diduduki. Tapi lebih sering termos itu dia letakkan di sampingnya. Dan selama jam istirahat main itu dia akan duduk bersandar dekat pintu, pada tembok kelas yang sebagian semennya sudah terkelupas. Dia dengan senang hati menunggu teman-teman yang kehausan menghampirinya. Lalu dia akan membuka termosnya, dan memperlihatkan potongan-potongan es dalam berbagai bentuk. …

Tak Perlu Menangis

Kami hanya boleh menangis jika suatu saat kalah melawan keinginan khianat, atau gagal mendidik anak dan terpaksa melihatnya duduk di kursi terdakwa karena mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ayah yang Tak Pernah Keren

Begitulah aku ceritakan kembali kisah ini kepadamu. Seperti aku yang akhirnya bisa memahami kenapa aku tak pernah punya motor ketika remaja dulu –dan tak menjadi keren karena itu, mudah-mudahan kau pun sama memahami. Bahwa rasa sayang itu, Nak, kadang mencelakakan.

3 Urinoir

Dalam hidup memang tak ada yang sia-sia, Nak. Urinoir yang bentuknya begitu-begitu saja itu pun sesungguhnya adalah guru. Mungkin seperti laut atau gunung yang mengajarimu tentang keberadaan Tuhan dan sekaligus menegaskan eksistensimu juga.
Di depan urinoir kita percaya, betapa kita sangat bergantung pada sebuah lubang kecil di bagian tubuh kita.

Lebah Sudah Pergi

Hampir tiga tahun mereka menemani kita, Nak. Dan sekarang saat mereka pergi, ada perasaan aneh. Semacam rasa kehilangan. Padahal mereka hanya sekawanan lebah. Bagaimana seandainya itu teman-teman sungguhan yang pergi karena perangai buruk kita?

Bukan Bobo

Dalam safari bergurunya, Nabi Musa dibuat heran oleh tindakan Nabi Khidir yang menegakkan sebuah tembok rumah yang hampir roboh. Nabi Musa, yang sebelum bertemu Nabi Khidir sempat menyebut dirinya sebagai mahluk paling alim di bumi, tak bisa menerima begitu saja tindakan Nabi Khidir. Mengapa dia harus menegakkan sebuah tembok di kota yang berisi orang-orang kafir yang tak mau menerima mereka dengan baik? Sebelumnya, Nabi Khidir melubangi perahu nelayan yang memberi mereka tumpangan dan membunuh seorang anak kecil yang mereka temui.

Kasur

Jika Aku Menjadi namanya, Nak. Sudah cukup lama juga program ini tayang di stasiun tempat kerjaku. Seingatku ide awalnya dikerjakan oleh Mas Satrio Arismunandar. Episode pertama –seingatku lagi– bercerita tentang seorang model (atau mahasiswi) yang tinggal bersama keluarga nelayan miskin dan mencoba melakukan pekerjaan mereka. Formula ini terbukti cespleng. Ratusan episode sudah tayang. Ceritanya pun…

Bacaannya Yang Kami Rindukan

Suara seperti bacaannya itulah yang bertahun-tahun aku cari. Tak pernah kami sempat merekamnya sebelum dia pergi. Dan ketika rindu itulah, sering aku mendatangi mesjid entah di mana, berharap sang imam membaca surah seperti caranya. Kerinduan. Hanya itu yang ingin aku lepaskan.

Pulang Memancing

Lalu aku teringat pada guruku, Nak. Suatu ketika dia bilang, “pembohong dan orang-orang yang tidak jujur bisa mendapatkan apa saja, kecuali ketenangan dan kedamaian.”

Jadi ingatkan aku, Nak. Pegang kata-kataku, jika suatu hari terpaksa memilih, akan lebih baik bagiku untuk memberimu makan ikan mujair atau nila yang kita pancing dari sungai-sungai kotor dan menuntunmu berjalan pulang dalam hujan, daripada harus menjadi orang yang berdiam dalam kendaraan-kendaraan mewah tapi tak merasa tenang.

Tali Cadangan di Sepatuku

Adalah seorang kawan yang mengajarkan. Itu saat kami masih sering berkelana kemana-mana. Masuk ke kampung ke orang, hanya membawa ransel dan diri. Tali itu ada di sana, Nak, di sepatuku, karena aku yakin suatu hari pasti akan bertemu dengan seseorang yang membutuhkan. Dan dengan itu, Nak, semoga aku bisa merasa sedikit berguna.

Segelas Air Dingin di Pagi Hari

Di pelataran Masjidil Haram ini, Nak, pada suatu pagi yang dingin, dengan segelas air zamzam di tanganku. Inilah salah satu sarapan ternikmat yang pernah aku rasakan. Memandangi Ka’bah yang suci itu, entah mengapa aku merasa, bahwa betapa pun sulitnya hal yang akan kita alami, hidup kita akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja, Nak.

Inilah Cerita yang Boleh Tidak Kau Dengarkan

Inilah cerita yang semoga akan mengajarkan kita agar tak pernah sungkan untuk menyatakan cinta kepada orangtua, betapapun mereka tidak lagi bisa mendengarkan, merasakan, atau bahkan mengingat.