Surat Tidak Terlalu Terbuka tentang Hal yang Tidak Terlalu Penting untuk Mas Nadiem Makarim

Foto: FB Kemendikbud RI

Mas , saya ada sedikit cerita untukmu. Kejadiannya sudah agak lama, hampir 3 tahun yang lalu. Ketika saya menulis itu, saya tak menyebut nama institusinya. Tapi sekarang saya buka saja, karena institusi itu kini ada di bawahmu.

Saya lihat videomu saat masuk kerja di hari ke-3. Tidak mau dipanggil Pak, maunya Mas. Mas Nadiem terlihat sumringah dan bergairah, suka cita bertemu dengan pegawai-pegawai. Mereka juga terlihat senang. Ada yang minta selfie segala. Mudah-mudahan situasinya memang sudah jauh lebih baik sekarang.

Saya dengar banyak juga orang yang resisten dengan pengangkatanmu sebagai -Dikti. Biasa itu, disrupsi memang tidak pernah menyenangkan bagi pihak yang sudah lembam.

Meski begitu, saya baca beberapa komentar dari kawanku dosen-dosen muda (yang sebenarnya juga lebih tua daripada dirimu), mereka cukup senang dan optimistis. Di bawah kepemimpinanmu, mereka berharap “dinosaurus” bernama Departemen Pendidikan itu bisa berubah. Terutama birokrasinya yang ribet itu.

 

====

Kamis, 22 Desember 2016

Benar-benar tak habis pikir dengan birokrasi. Tadi saya ada urusan di sebuah Kementerian. Saya bantu mengurus dokumen abang saya di daerah yang mangkrak berbulan-bulan. Menurut situs web-nya, urusan itu bisa diselesaikan via online, tapi sudah sekian lama tidak ada tanggapan. Jadi akhirnya saya datangi kantornya.  Dua tahun sebelumnya, saya juga mengurus satu berkas di Kementerian satunya lagi, dengan kondisi yang mirip. Satu berkas itu mangkrak 6 bulan. Melewati entah berapa banyak meja. Sampai-sampai saya harus mengiba-iba, minta diantarkan di meja terakhir di mana berkas itu berada.

Kali ini pun, saya sudah memperkirakan akan menghadapi birokrasi seperti apa, jadi saya bawa River dan Rain. Siapa tau kalau mereka lihat saya bawa , mereka kasihan dan bisa mempercepat urusan.

Seperti biasa, meja pertama yang kau temui akan menyuruhmu untuk bertemu meja lain. Semua kami patuhi. Pindah lift dan naik ke lantai yang lebih tinggi.

Di lantai yang lebih tinggi ini, kami hanya ditemui satpam. Bapak yang mau ditemui sedang dinas keluar. Saya minta bertemu dengan yang satu lagi. Satpam menyuruh menunggu. Kami pun menunggu, di depan lift. Tidak ada sofa atau ruangan untuk menunggu.

Kami pun bahkan tidak dipersilahkan duduk.


Agak lama, satpam keluar mengembalikan surat pengantar dan bilang dokumennya harus diubah. Ajegilee! Itu artinya harus mulai dari nol lagi.

Saya akhirnya minta dipertemukan dengan pejabat yang berwenang. Pak satpam masuk lagi dan membawa kabar.

“Tunggu, Bapak lagi makan.”

Kami akhirnya menunggu lagi, sambil berdiri. Bapak yang mau ditemui itu sama sekali tak ada itikad untuk keluar sebentar, setidaknya untuk menjelaskan apa yang harus kami lakukan.

Tapi saya sabar. Saya sudah siap dengan situasi ini. Lagipula, orang makan sebaiknya tidak diganggu. Meski itu sudah jam 3 sore. Mungkin beliau sibuk sehingga baru sempat makan.

Lama menunggu, tak ada kabar dari Bapak berwenang yang lagi makan itu. Pak Satpam hanya mondar-mandir.

Akhirnya, kesabaran saya hampir habis. Satpam datang dan malah bertanya ke saya, apa si Bapak sudah keluar. Yassalam… Mana saya tau orangnya yg mana!

Lalu saya bilang ke satpam, saya mau ketemu Dirjen. Pak Satpam nyolot, Pak Dirjen di Thamrin.

“Masak saya harus nelpon Pak N untuk urusan beginian doang…” kata saya menyebut nama menteri. Ini sudah jurus terakhir.

Ngapain nelpon menteri? Kata Satpam. Saya bilang, saya bawa , menunggu lama dan disuruh duduk pun tidak.

Pak Satpam akhirnya masuk lagi. Dan percaya tidak, tidak sampai dua menit, dokumen yang saya perlukan sudah keluar.

Padahal saya sudah siap-siap menelpon Pak N. Mantri sunat di kampung saya dulu. Beda huruf dikit tak apa.

Itu ceritaku. Apa ceritamu?

Fauzan Mukrim

Ayah River dan Rain. Menulis buku Mencari Tepi Langit (2010), River’s Note (2012) – diterbitkan ulang dengan judul #DearRiver (2018), Berjalan Jauh (2018), dan  #DearRain (2019). Jurnalis, kadang-kadang bikin kue.