Pup Jongkok Lebih Sehat Daripada Posisi Duduk?

Foto: Tom Mossholder – Pexels.com

Buang air besar atau boker atau atau dalam posisi sudah lazim dalam kebudayaan kita. Sebagian besar toilet yang kita temui, terutama di rumah-rumah di area rural, adalah toilet . Toilet baru-baru ini saja menginvasi kebudayaan kita.

Toilet duduk atau “western style” sendiri baru dikenal pada pertengahan abad 19 di Amerika dan Eropa. Saat itu penggunaan toilet jongkok mulai ditinggalkan dan diganti dengan toilet duduk yang dianggap lebih modern. Hanya negara-negara di Asia, Afrika, dan sebagian Eropa yang masih menggunakan toilet jongkok.

Belakangan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa buang air besar dengan posisi jongkok, jauh lebih sehat daripada dengan posisi duduk. Bukan hanya karena demikian anjuran agama tapi juga karena alasan medis. Salah satu yang paling sering dikutip adalah hasil penelitian Dov Sikirov, seorang dokter asal Israel. Dov meminta 28 orang relawan (usia 17 -66 tahun) untuk pup dengan beberapa posisi dan mencatat berapa waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi puas dalam pengeluaran kotoran.


Hasilnya, mereka yang pup dengan posisi jongkok membutuhkan waktu rata-rata 50 detik, dan dapat bonus perasaan lebih lega. Sementara relawan yang pup dengan posisi duduk, membutuhkan waktu rata-rata 2 menit 10 detik untuk mencapai kepuasan yang sama.
Hal ini bisa terjadi karena “pintu pengeluaran” kita terbuka secara alamiah ketika jongkok, bukan ketika duduk dan apalagi berdiri.

Kesimpulan dari penelitian ini, pup dengan posisi duduk membutuhkan usaha yang lebih keras dibanding berjongkok. Penelitian Dov Sikirov ini dipublikasikan dengan judul “Comparison of Straining During Defecation in Three Positions: Results and Implications for Human Health” di jurnal Digestive Diseases and Sciences, Volume 48, Issue 7, Juli 2003.

Temuan itu diperkuat oleh sejumlah peneliti Jepang, di antaranya Ryuji Sakakibara dam Kuniko Tsunoyama. Dalam penelitian berjudul “Influence of Body Position on Defecation in Humans” yang dipublikasikan di laman LUTS, Sakakibara menemukan bahwa ketika berjongkok, saluran pembuangan (intestinal canal) kita tidak terhambat, lurus seperti jalan tol. Kalau di bahasa awamnya, ketika jongkok, otot-otot puborectalis melemas sehingga mempermudah keluarnya tinja.

Dari beberapa temuan itu, semakin banyak dokter yang merekomendasikan penggunaan toilet jongkok ketimbang toilet duduk.

Di London, Inggris, seorang desainer mencoba menjembatani kebutuhan itu. Peter Codling, namanya. Ia tahu bahwa masyarakat Barat sangat sulit menggunakan toilet jongkok. Alumni London’s Royal College of Art ini kemudian mendesain sebuah toilet duduk yang ketika dipakai “memaksa” posisi kita untuk seperti berjongkok. Toilet ini ia beri nama Le Penseur.

Foto: Peter Codling – Le Penseur

Peter sudah melakukan riset, termasuk melibatkan neneknya yang berusia 83 tahun.

“Ada otot yang terhubung ke panggul, yang ketika kita dalam posisi duduk menutup usus dan menghalangi pembuangan. Dalam posisi berjongkok, otot ini rileks dan kolon juga dalam keadaan lurus. Ini memungkinkan Anda untuk pup dengan cepat dan lebih lengkap,” kata Peter sebagaimana dikutip dari Reuters.

Peter berasumsi bahwa minimal diperlukan sudut 55 derajat antara tungkai paha dan perut untuk mendapatkan posisi jongkok optimal yang membebaskan saluran pembuangan kita.

Foto: Peter Codling – Le Penseur

Lalu bagaimana kalau di rumah cuma  ada toilet duduk? Bolehkah jongkok di atasnya?
Jongkok di atas toilet duduk sangat tidak dianjurkan. Selain tidak etis, juga sangat berbahaya. Silakan googling tentang insiden ini. Serem-serem, Bos!

Kalau di rumah Anda terlanjur terpasang toilet duduk, salah satu cara mengakalinya adalah dengan menambahkan dingklik atau bangku kecil di bagian kaki, sehingga kaki Anda dalam posisi lebih tinggi dari lantai. Perkirakan saja sampai kira-kira dapat sudut 55 derajat itu.
Tidak perlu beli Le Penseur yang mahal, ini juga sudah cukup untuk pengalaman eek yang lebih sehat dan penuh kepuasan.