Pulau-Pulau yang Mengecewakan

Disappointment Islands – Foto: Andrew Evans, bbc.com

Anda mengecewakan? Bisa saja, tapi tak perlu sampai baper menamai semua hal yang mengecewakan Anda itu seusai dengan suasana hati, seperti yang dilakukan ini.

Apalah arti sebuah nama, kata Shakespeare, untuk menafikan makna penamaan. Namun bagi penduduk Pulau Tepoto dan , penamaan “Disappointment Islands” untuk gugusan dua pulau hunian mereka sungguh tak adil. Penulisan yang tak bersahabat, membuat dua pulau itu mesti dikenali dengan nama yang menggelikan.


Bermula dari kisah John Byron, yang sepatutnya adalah nahkoda penuh pengharapan. Namun, lantaran rasa pundung yang memuncak, dia menamai dua pulau yang dikunjunginya tahun 1765 sebagai “Disappointment Islands; Kepulauan yang Mengecewakan”.

Setelah lebih dari sebulan armada kapal Kerajaan Inggris yang dipimpin Byron mengarungi luasnya lautan Pasifik yang seakan tak bertepi nan membosankan, pada hari Jumat pagi, 7 Juni 1765, nampak sebuah pulau kecil yang dikelilingi pasir putih dan ditumbuhi pohon-pohon kelapa tinggi menjulang, demikian Byron menggambarkan pulau cemerlang ‘temuannya’ itu.

Surga kecil di selatan Pasifik itu memukau Byron dan awak kapalnya. Segera ia menurunkan perahu kecil untuk mendekati pulau dengan nyiur melambai-lambai itu. Dalam lambung perahu itu, ia juga memuat beberapa tampuk roti untuk dibagikan kepada penduduk setempat.

Namun beberapa puluh meter menjelang bibir pantai, sekumpulan penduduk lokal telah bersiaga dengan tombak sepanjang 5 meter, berteriak-teriak dan bergerak dalam irama seperti tarian perang. Byron juga menyaksikan bahwa penduduk itu mengirimkan sinyal berupa panah api ke pulau sebelahnya.

Berusaha bersikap ramah kepada para penghuni pulau, Byron dan awaknya menawarkan roti-roti dan makanan lain, sebagai penanda diplomasi damai. Alih-alih menerima, para penduduk tak menyentuh roti itu dan malah menggoyangkan dinding perahu seperti hendak menenggelamkan seluruh penumpangnya.

Byron frustasi dan menjauhi penghuni pulau, sambil mengayuhkan perahunya ke pulau tetangganya yang juga tak kalah indahnya. Ia berharap itikad baiknya kali ini diterima dengan senang hati oleh penhuni pulau sebelah.

Namun sama saja, isyarat panah api diterima dengan baik oleh penghuni pulau kedua. Perlakuan tak bersahabat juga diperlihatkan oleh penduduk pulau ini, mengacung-acungkan tombak panjang sambil berteriak dengan bahasa dan irama yang mencekam Byron dan awaknya.

Hanya sekitar 20 jam masanya Byron berusaha mendaratkan awaknya di pulau-pulau itu, yang dalam bahasa setempat dinamakan Tepoto dan Nepuka dan kini masuk dalam wilayah Polinesia Perancis. Selepas itu, karena tak mampu membujuk penduduk setempat, Byron dan kapalnya kemudian berlayar menjauh.

Kecewa karena penolakan penduduk pulau-pulau itu, John Byron kemudian menuliskan nama kepulauan itu di catatan hariannya sebagai “Disappointment Islands”, kemudian mencatatkan nama yang sama sebagai nama resmi di dunia yang kelak ia laporkan ke Kerajaan Inggris.

Nomenklatur navigasi Dunia juga mengabadikan nama pulau yang mengecewakan Byron itu dengan nama yang sama “Island of Disappointment” dan dijadikan nama resmi hingga kini.

***

rupanya juga menjadi nama sebuah pulau di gugusan kepulauan Auckland, Selandia Baru. Pulau kecil tak berpenghuni ini diberi nama yang mengecewakan karena tak banyak sumber alam yang didapatkan di sana, terutama bagi awak kapal yang terdampar di pulau ini.

Karenanya, hingga kini pulau seluas 3 kilometer persegi ini hanya dihuni oleh 65 ribu pasangan elang laut, tanpa ada manusia seorang pun. Juga, pulau ini menjadi “neraka” bagi kapal-kapal yang melintas karena tak sedikit yang karam di sana.

Di internet, anda juga bisa menemukan banyak nama-nama lucu, atau miris, untuk sebuah tempat. Sebutlah di antaranya, Pulau Kesepian (Lonely Island) di tengah danau Huron Kanada, Pantai Cerai (Divorce Beach) di San Lucas , Pulau Tak Berguna (Useless Island) di New Zealand, dan sebagainya.

***

Untunglah nama-nama pulau di kepulauan Nusantara tak bernasib buruk seperti Tepoto dan Nepuka. Sejak ribuan tahun silam, bangsa di Nusantara sudah terbiasa dikunjungi pelaut dan pedagang asing, sehingga penolakan tak banyak tercatat sejarah.

Bahkan sejak dulu catatan sejarah kita menyebutkan kerjasama dagang yang karib antara kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singasari, dan lain-lain dengan bangsa asing; Cina, Arab, India, Peranggi, Ispanya, Belanda dan sebagainya.

Hanya karena ambisi dagang dan kuasa yang kelewat batas saja, bangsa Eropa seperti Peranggi, Belanda dan Inggris – belakangan juga Jepun yang memaksa untuk menguasai pantai dan bandar di Nusantara.

Meski menjajah, Belanda tak sampai memberikan nama buruk ke wilayah yang diduduki – meskipun juga perlawanan dari rakyat setempat tak pernah benar-benar padam. Belanda malah mengagumi keindahan kota-kota atau tempat yang mereka datangi, terkadang membangkitkan rasa nostalgia.

Sebutlah Buitenzorg – nama Bogor yang dalam bahasa Belanda berarti Kota Tanpa Rasa Risau, atau Fort Rotterdam – untuk nama benteng di , dinamakan demikian untuk mengobati kerinduan Jan Pieterszoon Coen akan kampung asalnya.

Juga nama Batavia untuk Jakarta, diambil dari nama bangsa Batavia, sebuah suku Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein pada Zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini.

Selain itu, kebanyakan nama tempat di Indonesia adalah nama yang baik-baik, diambil dari sejarah atau pendiri kota atau pelabuhannya.

Sumber bacaan:
www.bbc.comhttp://www.bbc.com/travel/story/20190319-a-journey-to-the-disappointment-islands

Wikipedia.com
https://www.fmylife.com/

Muhammad Ruslailang

Orang Bugis yang menetap di Abu Dhabi.
Tekun beribadah dengan membaca.
Muhammad Ruslailang