Monster yang Lain dalam Dirimu

Tentu saja saya tidak pernah berniat untuk menjadi “monster” bagi River, meski di usianya yang sudah 6 tahun sekarang, beberapa kelakuannya sudah mulai sering bikin “naik darah”. Diam-diam mem-pilox sepedanya, bikin grafiti di tembok rumah seolah-olah dia Bansky, atau meninggalkan biji Lego-nya di kasur —yang kau tahu bagaimana rasanya bila tertindih.

Rasanya belum sekali pun saya meradang. Saya selalu berusaha berpegang teguh pada imaji bahwa saya ayah yang baik, yang bukan monster. 🙂

Tumbuh di kultur Bugis yang keras, saya menerima didikan yang juga keras dari orangtua. Keras dalam artian tegas, bukan abusive. Ibu saya tegas, cenderung militeristik (Hehehe. Peace, Mak!). “A” maka “A”, tidak boleh “a”, apalagi “b”. (Salah satu ingatan tentang itu ada di sini). Bapak saya, meski lebih santai, sama juga. Meski begitu, mereka sayang luar biasa pada anak-anaknya. Saya pernah ketahuan ikut anak-anak kampung mencari ikan di bekas galian batu bata, dan besoknya saya tidak boleh lagi keluar rumah setelah pulang sekolah. Dan tak lama kemudian, sebuah akuarium besar berisi segala macam ikan hias sudah terpasang di ruang tengah.
Waktu saya sakit tipes, saya melihat mereka berdua resah dan gelisah sepanjang hari dan saya dikasih buku untuk menulis apa pun yang saya mau makan. Waktu itu seingatku, saya menulis pengen Chiki Stick, meski pun ketika saya sembuh, nggak dibeliin juga. Hehehe….
Itu sebabnya kadang saya tidak habis pikir kalau ada orang yang abusive terhadap anak-anaknya. Saya tidak pernah mengalaminya, tapi sering mendengar cerita tentang itu. Setidaknya ada dua orang kawan saya yang pernah curhat tentang orangtua yang seperti monster. Ada satu orang kawan, saking marahnya pada ayahnya yang abusive, sampai-sampai ketika ibunya meninggal ia merasa seharusnya ayahnya yang meninggal duluan.
Satu kawan lagi, perempuan, sempat ragu menikah karena takut mendapatkan suami yang mirip ayahnya.
 
Itulah yang sebelumnya saya pikirkan tentang orangtua “monster”.
Sampai kemudian saya membaca buku Parent’s Stories yang ditulis Mas Adhitya Mulya.
 
Sebelum buku Sabtu Bersama Bapak, saya pikir Mas Adhit ini adalah seorang “pelawak tulisan”. Lebih mirip komedian daripada figur ayah yang mengayomi. Namun buku Sabtu Bersama Bapak dan –kemudian buku Parent’s Stories— mengubah persepsi saya. Meski mengaku tidak pernah mengajari, Mas Adhit terlanjur jadi guru. Banyak hal dalam buku itu yang harus saya amini.
 
Di buku Parent’s Stories, Mas Adhit mengingatkan ada jenis “monster” lain yang juga berbahaya yang bisa saja bersemayam di dalam diri orangtua yang tidak awas. Orangtua yang merasa semua berjalan dengan baik.
 
Monster itu bisa muncul justru karena rasa sayang yang berlebihan. Misalnya, ketika terjadi masalah pada seorang anak, banyak orangtua yang susah mengakui bahwa “anaknya memiliki masalah”, apalagi membantu memperbaikinya.
 
Kita pasti pernah mendapati orangtua murid di sekolah anak yang menyalahkan guru atas sesuatu yang terjadi kepada anaknya. Atau menyalahkan wasit saat anaknya kalah. Singkatnya, ketika sesuatu yang salah terjadi, yang salah itu seluruh dunia, bukan anaknya. 
 
Hari ini, anaknya adalah korban dari kebodohan guru. Kemarin, anaknya adalah korban dari ketidak adilan wasit. Tahun depan, anaknya adalah korban dari tidak sempurnanya sistem pendidikan. Dunia salah. Anaknya sempurna–tapi selalu menjadi korban keadaan. Seakan-akan, dia sebagai manusia tidak memiliki kuasa untuk mengontrol kondisi di dalam ekosistemnya. (hal: 146)
 
Maka yang terjadi adalah:
“Nak, kenapa nilai kuliah kamu jelek-jelek?”
“Abis, semua dosennya rese.”
Korban dari dosen rese. Padahal, mungkin dia yang harus belajar lebih keras.
 
“Nak, kenapa kamu sudah resign lagi dari pekerjaan kamu?”
“Abisnya orang-orang di kantor pada gitu, sih. Aku nggak cocok sama mereka.”
Korban dari ketidakcocokan. Padahal, mungkin perangainya yang membuat dia kurang diterima lingkungan kantor.
 
“Nak, kenapa karier kamu nggak naik-naik?”
“Soalnya si bos lebih senang sama yang roknya pendek.”
Korban dari subjektivitas bos. Padahal, mungkin dia saja yang kurang kerja keras dan kerja cerdas.
 
Selalu ada kesalahan orang lain yang dia cari, tanpa berpikir untuk introspeksi.
 
Itu monster pertama. Monster kedua, adalah membandingkan seorang anak dengan sesuatu yang…
 
Ah, sudahlah. Rasanya saya sudah cukup bercerita. Ada baiknya Mas, Mbak, Bapak, Ibu, membaca sendiri buku itu. Saya jamin buku ini asyik. Dan, karena yang menulis Adhitya Mulya, saya mau bilang apa lagi? 🙂

Leave a Reply

Silakan dibaca juga