Ketika Bahasa (Tambora) Punah

Foto: Hert Niks – pexels.com

Tahun 1815, salah satu suku asli Nusantara, berikut tuturnya, , hilang dan punah disapu letusan Gunung . Bersama suku , konon ada sekitar 50 ribu hingga 117 ribu jiwa korban kematian akibat murka gunung setinggi 2850 meter ini.


Efek letusan Tambora ini menjangkau pula benua Eropa, dikenal dengan masa “a year without summer” – karena efek erupsinya, langit Eropa sepanjang tahun 1816 tertutup awan pekat dari letusan gunung api ini. Konon, tak ada sinaran cahaya matahari setahun itu. Gelap dan buram saja. Seperti suasana sosmed jelang pilpres.

Bahasa Tambora, bahasa yang sudah punah itu, oleh ahli bahasa dimasukkan ke dalam rumpun Bahasa Papua.

==

Papua, pulau besar yang terbelah ke dalam dua negara ini dianggap sebagai kawasan yang paling kaya akan ragam bahasa. Penduduk asli pulau ini berlimpah kekayaan bahasa dengan 800 variasi bahasa yang tersebar dari Kepala Burung dan Halmahera hingga ke Teluk Milne di ekor Papua Nugini. Terkadang masing-masing tidak memiliki keterkaitan akar kata satu dengan lainnya. Belum lagi beberapa bahasa unik yang tak bisa dikelompokkan ke dalam Bahasa Papua karena perbedaan yang sangat tajam. Menurut ahli bahasa, sebaran bahasa Papua ini berbeda dengan puak Bahasa Melanesia di pasifik atau bahasa-bahasa Austronesia yang dituturkan penduduk Asia Tenggara.

Dengan penutur yang diperkirakan berjumlah 4 juta jiwa, kelompok bahasa-bahasa Papua juga mencapai Sumbawa dan Timor Timur. Salah satu variasi Bahasa Papua di Sumbawa, yakni Bahasa Tambora, sudah punah sejak 1815 karena penutur-penuturnya tewas disapu letusan dahsyat Gunung Tambora. Tambora ini juga dikenal sebagai titik paling barat sebaran bahasa-bahasa Papua. Keberadaan kosa kata bahasa Tambora sempat dibukukan tahun 1817 oleh Raffless, sang Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia yang memang gemar menulis etnografi Nusantara saat memerintah. Beberapa bahasa yang dipakai penduduk Timor Timur juga diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga bahasa-bahasa Papua semisal Fataluku dan Makasae yang jamak dituturkan oleh penduduk Timor bagian timur.

Dari 800-an varian Bahasa Papua, hanya ada sekitar 10 bahasa yang dituturkan secara luas oleh lebih dari 20 ribu jiwa. Bahasa-bahasa dominan ini di antaranya; Dani (180 ribu penutur), Ekari (100 ribu) di Papua Indonesia, kemudian ada Enga, Huli, Melpa dituturkan di Papua Nugini. Selain di pulau Papua, ada juga Makasae dan Fataluku yang dijadikan bahasa sehari-hari orang Timor Timur, juga ada Galela di Halmahera Maluku.

Untungnya, tak ada di antara Bahasa Papua itu yang punah selain Bahasa Tambora yang disapu letusan gunung tahun 1815. Meski ada juga beberapa bahasa-bahasa Papua yang digolongkan terancam punah, namun upaya peletarian bahasa-bahasa lokal ini diupayakan terus menerus melalui berbagai penelitian dan pengembangan yang melibatkan organisasi internasional. Menurut catatan UNESCO yang diterbitkan tahun 2010, ada 88 jenis bahasa Papua yang terancam punah yang sedang diupayakan pelestariannya.

==

Tahun 2050, diperkirakan 90% dari bahasa yang ada di dunia saat ini – sekitar 7000 bahasa, akan punah. Artinya ada 6000-an bahasa yang kehilangan penuturnya. Kebanyakan bahasa ini punah karena terjajah dan tergantikan oleh bahasa yang lebih jamak dipakai oleh orang-orang sekitarnya. Salah satu contoh yang paling sering dibicarakan oleh para ahli bahasa adalah bahasa-bahasa asli Amerika. Sebagian besar bahasa tempatan yang dituturkan oleh suku Indian ini punah karena terdesak oleh penggunaaan Bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Belanda sebagai akibat langsung dari proses kolonialisasi. Kalau tak punah, bahasa itu tercemari oleh kosa kata baru dari bahasa pendatang.

Bahasa Melayu juga demikian. Saya kadang mengalami kesulitan memahami kosa kata dari teman yang bertutur melayu Malaysia. Kalau tak bertanya, mungkin tak akan paham maksudnya. Sebahagian kata-kata yang tak dimengerti itu rupanya adalah kosa kata yang tergerus atau berubah karena sentuhan bahasa asing itu.

Suatu saat bahasa Bugis, Jawa, Sunda, Batak mungkin akan ikut punah atau tercemari oleh kosa kata yang merangsek masuk dari luar. Itu seperti keniscayaan zaman, apalagi serbuan pengaruh media semakin beringas di zaman kini. Meski bahasa berangsur-angsur punah, atau berubah, namun cara manusia berkomunikasi selalu akan menemukan bentuknya. Selamat BERBAHASA.

Muhammad Ruslailang

Orang Bugis yang menetap di Abu Dhabi.
Tekun beribadah dengan membaca.
Muhammad Ruslailang