Ini Sebabnya Kenapa Kamu Harus Berkebun di Rumah

Iya, kenapa kamu harus berkebun di ?

Di #JamanPandemi ini, mendadak pedagang tanaman langganan saya diserbu pembeli. Ada pembeli lama seperti saya yang sebulan sekali pastilah beli-beli entah kompos entah sekam bakar, namun yang jelas terjadi lonjakan pembeli . Mereka yang tiba-tiba muncul dan memborong pot, tanaman dan media tanam. Tidak cuma berkebun di tanah saja yang jadi hits, tetapi juga aneka peralatan hidroponik juga jadi trending di marketplace.

Berkebun jadi salah satu alternatif mengisi waktu di era Work From Home ini, demikian kata pengamat lifestyle. Saya senang dan berharap semoga trend berkebun ini tidak hanya jadi tren hobi sesaat saja di #JamanPandemi ini. Karena kita punya banyak alasan untuk terus berkebun walau #JamanPandemi telah berlalu, dan memang semoga cepat berlalu. Aamiiin.

Balik lagi ke awal, kenapa kamu harus berkebun di rumah?

Karena memang banyak alasannya:
1. Berkebun itu menyenangkan dan bikin .
2. Berkebun itu bikin kamu kena sinar matahari yang dibutuhkan untuk membangun sistem pertahanan tubuh melawan penyakit termasuk si #covid-19.
3. Berkebun itu bisa bikin kamu makan sayuran mahal yang cuma ada di supermarket premium setiap hari kapan aja kamu mau, contohnya kamu bisa tanam Kale si Superfood di pot dan sekalian jadi pajangan keren untuk teras rumah kamu loh.
4. Berkebun itu bisa menyelamatkan bumi, gimana gak hebat kamu ? Udah macam Avengers aja bisa menyelamatkan bumi.

Poin no. 4 saya highlight karena poin ini yang penting buat saya. Iya, buat saya. Mungkin tidak penting buat kamu. Tapi saya sebagai penulis mau mengingatkan poin no.4 ini karena mungkin kamu gak sadar kamu sudah menjadi pahlawan penyelamat bumi hanya dengan raised bed 1 meter x 1 meter di halaman mungil rumah kamu atau kebun balkon ukuran 1 meter x 2 meter yang penuh dengan pot atau planter bag yang isinya bermacam-macam tanaman.

Dengan punya tanaman di rumah paling tidak kamu sudah menyumbang oksigen ke udara. Seperti yang kita pelajari di pelajaran Biologi #JamanSekolah, bahwasanya tanaman itu menyerap gas karbon di udara dan melepaskan gas oksigen. Nah buat para urbaner yang tinggal di kota yang penuh polusi, jadi penting yekan untuk nanam tanaman di rumah kamu?

Kalau kamu punya taman dan menurutmu tanah di taman kamu gak subur, kamu bisa bikin raised beds. Raised beds itu adalah bagian tanah yang ditinggikan kemudian kamu isi dengan media tanam subur beli di toko tanaman. Jadi raised beds itu terhampar di atas tanah kamu yg gak subur itu. Bagusnya kamu kasih pupuk kascing (kascing = bekas kotoran cacing = vermicompost) yang ada cacingnya juga supaya nanti cacing-cacing itu bisa terus menggali tanah dan akhirnya menyuburkan bagian tanah taman kamu yang tidak subur.

Raised Bed Genteng | Foto: dok pribadi

Dengan berusaha menyuburkan tanah, kamu berperanan untuk mencegah erosi tanah. Yang kita sebut tanah itu maksudnya adalah tanah yang subur. Kalau orang sono sih bilang tanah yang subur itu Soil, sementara tanah yang udah mati dan gak subur lagi itu disebut Dirt. Tanah yang subur itu adalah tanah yang mengandung bakteri penyubur tanah, nutrisi mikro dan makro yang diolah secara alami oleh hewan tanah seperti cacing dan teman-temannya. Tanah yang subur seperti ini sudah banyak yang hilang. Bahkan mungkin di pekarangan rumah kita tanpa kita sadari telah terjadi erosi tanah subur. Tanah yang subur itu menghilang, entah karena disapu air hujan atau juga tanah menjadi padat karena kehilangan hewan dan mikroba yang bertugas menyuburkan tanah itu.

Kenapa hewan penyubur tanah itu pergi? Salah satu penyebabnya adalah karena sumber makanan mereka sudah tidak ada. Sumber makan si mikroba dan hewan penyubur itu adalah sampah organik, bisa berupa daun kering yang jatuh ke tanah atau sampah dapur kamu yang segar. Kalau di hutan sana kan gak ada yang punya sampah dapur, adanya daun kering, buah busuk, ranting kayu kering dan hewan hutan yang mati, nah itu adalah makanan para makhluk penyubur tanah. Jadi kalau punya sampah organik seperti yang saya sebut di atas itu, sebisa mungkin jangan dilempar ke tong sampah, tapi kembalikan ke tanah. Bagusnya sih dikubur ya, apalagi klo ada sampah yang bau-bau. Tapi kalau repot gali lubang tutup lubang, bisa buat yang disebut Lubang Resapan Biopori atau sekalian bikin kompos. Sekarang banyak cara untuk mengompos-ria. Dari yang modal ember cat bekas sampai komposter cantik bertingkat yang tampil cantik dipajang di teras rumah.

Komposter cantik dari gerabah | Foto: dok. Ita Kustina

Nah karena kamu punya tanaman yang ditanam dengan media tanam tanah, bisa di pot atau langsung di tanah, maka kamu berkesempatan untuk mengelola sampah organik kamu sendiri. Itu artinya kamu gak lagi mengirimkan sampah organikmu ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir. Di TPA tuh udah repot ngurusin sampah non organik yang susah hancur ditambah keribetan ngurusin proses daur ulangnya, belum lagi kalau ada sampah beracun macam batere bekas, waduh!! … Nah kalau kita bisa mengurangi sampah organik yang kita kirim ke TPA artinya kita sudah bantu banyak banget mengurangi masalah persampahan di TPA.

Apalagi nih FYI saja, timbunan sampah organik itu kalau mulai membusuk, selain menghasilkan bau tidak sedap, juga ternyata menghasilkan gas metana yang disebut-sebut sebagai penyebab efek rumah kaca dan yang lebih berbahaya lagi, kalau gasnya sudah terkonsentrasi banyak, bisa menyebabkan ledakan besar. Tahun 2005 sudah pernah terjadi bencana di TPA Leuwigajah . Ratusan orang meregang nyawa dibawah tumpukan sampah. Hal itu terjadi karena terjadi ledakan gas metana yang menyebabkan gunungan sampah longsor menimbun dua desa dan ratusan orang.

Karena banyak gas karbon terperangkap menyebabkan suhu di bumi naik terus sederajat, dua derajat, tiga derajat dan seterusnya. Kata para ahli, sekedar mengurangi emisi gas karbon itu gak cukup untuk menolong kita semua, karena walaupun sudah dikurangi, gas karbon yang sudah ada di awang-awang itu tetap ada dan tetap melingkupi bumi. Dibutuhkan sesuatu yang secara masif bisa menyerap gas karbon tersebut, dan tahukah kamu siapa yang mampu menyerap gas karbon itu secara masif? Yak kamu bener, dia adalah para pohon dan semua tanaman.

Nah kalau kamu di rumah sudah berkebun dan menanam aneka tanaman, bahkan syukur-syukur kamu punya satu-dua pohon besar di halaman rumah, lalu kamu juga sudah mengelola sampah dapur segarmu sendiri sehingga tidak lagi kirim-kirim ke TPA maka kamu sudah berperan penting dalam mengurangi emisi gas karbon di dunia ini.

Widiiw, segitunya kah?

Iya siy kalo kamu cuma sendirian melakukannya sih mungkin gak begitu pengaruh sama dunia ya. Tapi jangan berkecil hati, dari kamu yang cuma sendirian melakukannya di rumah, nanti akan ada yang mengikuti kok. Percaya deh, makin banyak orang yang sadar bahwa mereka bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bumi kita ini. Jadi tetap semangat yaa …

%d bloggers like this: