#dearRiver: Tembok

#dearRiver
Ayah maklum bila beberapa orang yang datang bertamu heran melihat tembok kita. Malah dulu ada yang bertanya kenapa kami biarkan kamu mencoret-coret tembok sampai ke ruang tamu. Barangkali ia membandingkan dengan rumahnya sendiri atau rumah-rumah yang indah di Instagram dan Pinterest.

Tentu akan panjang kalau harus saya jelaskan bahwa itu salah satu cara kami –ayah dan ibumu– memfasilitasimu untuk membuat kenangan, jadi biasanya kami hanya jawab, “tak apa, nanti juga bisa dicat lagi.”


Memang pernah ada niatan untuk mengecat ulang. Saya sudah menyimpan data merk dan kode warna cat original yang dipakai kontraktor rumah kita dari awal. Supaya nanti tidak blang-blonteng kalau misalnya hanya dicat sebagian.

Tapi kemudian saya berpikir untuk membiarkannya begitu saja, selama mungkin. Selama yang kami bisa.
Kalau memang masih rezeki, kami sepakat untuk tetap mempertahankan rumah ini. Rumah yang kami bangun dari jerih payah sendiri. Rumah yang menyimpan cerita tentang bagaimana kami menerjang hari-hari yang panas atau penuh hujan demi bisa membayar cicilannya tepat waktu. Pendeknya, bangunan ini adalah dokumenter perjalanan kami memberimu tempat berteduh yang nyaman. Semacam scratch-mark atau bekas operasi cesar di perut ibumu yang menjadi penanda kamu pernah ada di dalam dirinya dan susah keluar.

Barangkali nanti pun kami diberi kesempatan untuk menua bersama di rumah ini, kami bayangkan akan tiba saatnya kamu dan adikmu terbang keluar. Membangun sarang masing-masing di luar rumah ini.

Dan sekiranya nanti saya akan membosankan bagimu karena kita sering bertikai, atau tidak sepaham dalam satu hal (misalnya saya baca terjemahan Syamil dan kamu bukan, meski sama-sama Lajnah Pentahsihan-nya). Atau saya akan menjengkelkan karena digerus demensia, atau masakan ibumu tidak lagi enak… mungkin coretan-coretan masa kecilmu itu yang bisa membuatmu tetap ingat pada rumah ini.

Seandainya hanya gambar-gambar itu yang akan membuatmu rindu untuk sesekali pulang. Kami simpankan untukmu.